TRI HANNA D.S _UTS BK KARIR
BIMBINGAN
KONSELING KARIR
“Rasa
Cemas Menentukan Jurusan yang Akan dipilih serta Peserta Didik yang Mengalami
Kesulitan Berinteraksi dengan Guru”
Tri
Hanna Delfrida Situmorang (1193151002)
BK
Reguler A 2019
1.
Pengertian
Bimbingan Karir
Dillard
(1985) membedakan antara pekerjaan (job) dengan karir (career). Menurutnya, job
mengacu kepada pekerjaan yang tidak berlanjut dan mungkin bersifat sementara.
Karena itu suatu pekerjaan umumnya hanya menuntut sedikit keahlian, sedikit
pendidikan, dan sedikit dedikasi. Sedangkan pekerjaan sebagai karir
mengimplikasikan adanya pendidikan dan latihan, komitmen, dan merupakan jalan
kehidupan kerja yang dipilih individu. Selain itu karir mengimplikasikan
keberhasilan pada apa yang individu pilih serta kebermaknaan personal dan
financial. Hal ini sejalan dengan kalimat yang diungkapkan Dillard (1985) bahwa
" a career implies success on what you chosen to do and an accompanying
sense of personal and financial well being".
Sedangkan
konseling salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan di mana proses pemberian
bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung
dan tatap muka antara guru pembimbing/konselor dengan klien, dengan tujuan agar
klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu
memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk
mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang opimal, sehingga
ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Bimbingan Konseling karir merupakan salah satu bidang dalam bimbingan dan konseling. Sebelum menjelaskan mengenai pengertian Bimbingan Karir itu sendiri, maka terlebih dahulu menjelaskan mengenai pengertian Bimbingan dan Konseling. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan yang terus menerus dari seorang pembimbing yang telah dipersiapkan kepada individu yang membutuhkannya dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan dalam suasana asuhan yang normatif agar tercapai kemandirian sehingga individu dapat bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.
2.
Tujuan
Bimbingan Konseling Karir
Permendikbudno 111 tahun 2014
(Kemendikbud, 2014) menyebutkan tujuan bimbingan karier yakni memfasilitasi
perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karier sepanjang
rentang hidup peserta didik/konseli. Dengan demikian, peserta didik akan:
1.
memiliki pemahaman diri (kemampuan,
minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan
2.
memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karier yang menunjang kematangan kompetensi karier
3. memiliki sikap positif terhadap dunia kerja
4. memahami relevansi kemampuan menguasai pelajaran
dengan persyaratan keahlian keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi
cita- atau cita kariernya masa depan
5.
memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karier, dengan cara mengenali
ciri-ciri pekerjaan, persyaratan kemampuan yang dituntut, lingkungan
sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan merencanakanmasa
depan, yaitu merancang kerja; memiliki kemampuankehidupan secara rasional untuk
memperoleh peran- peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi
kehidupan sosial ekonomi: membentuk pola-pola karier mengenal keterampilan,
kemampuan dan minat; memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil
keputusan karier.
3.
Prinsip
Bimbingan Karir
HongkongEducation
Berau (2009) menyebutkan ada enam prinsip bimbingan karier di jenjang sekolah
menengah. Prinsip- prinsip tersebut yakni:
1. Pelaksanaan bimbingan karier
sesuai dengan tugas perkembangan peserta didik dari berbagai jenjang
2. Bimbingan karier diberikan kepada seluruh
siswa dan tidak memandang kemampuan akademiknya, latar belakang budayanya, atau
orientasi hidupnya
3. Bimbingan karier memberdayakan siswa agar
dapat membuat keputusan karier yang bertanggung jawab baik keputusan studi lanjut,
pekerjaan atau aspek dalam hidup lainnya
4. Bimbingan karier mendorong siswa untuk
membuat karier dan studi sesuai minat, bakat, dan
nilai kehidupan
5.
Bimbingan karier mendorong siswa agar dapat mempersiapkan diri dalam
aktualisasi potensi terbaiknya
6. Bimbingan dan karier mendampingi siswa dalam menghadapi dan beradaptasi selama proses transisi dunia sekolah ke dunia kerja, serta mempersiapkan kehidupan yang lebih dekat
4.
Penyelenggaraan
Bimbingan Karir
Penyelenggaraan bimbingan karier oleh guru BK dapat
berupa:
1. Melaksanakan asesmen kebutuhan
Sebelum layanan bimbingan karier diberikan, guru BK hendaknya melakukan pengumpulan informasi (asesmen) dari peserta didik dan lingkungannya.
2. Bimbingan Kelas Besar / Lintas Kelas
Layanan bimbingan karier dalam setting kelas besar dapat berupa seminar karier yang mengundang narasumber baik ahli maupun praktisi, pelatihan softskill, workshop perencanaan karier, maupun Career Day. Pelaksanaan bimbingan karier ini dapat dilakukan di aula atau di lapangan sekolah.
3. Bimbingan Klasikal
Bimbingan klasikal diberikan di dalam kelas saat jam pelajaran BK yang dialokasikan 2 jam per pekan. Materi yang disampaikan tentu disesuaikan dengan hasil asesmen kebutuhan dan permasalahan siswa. Selain aspek pemahaman (pemberian informasi), pelaksanaan bimbingan karier secara klasikal juga dapat berupa peningkatan kompetensi karier yang harus dimiliki siswa.
4. Bimbingan Kelompok
Bimbingan karier secara kelompok dilaksanakan bagi sekelompok siswa yang memiliki permasalahan karier yang sama, misalnyasiswa tidak diberi kebebasan memilih oleh orang tua atau siswa memiliki keterbatasan ekonomi dalam mempersiapkan studi lanjut.
5. Kolaborasi dengan Orang Tua
Orang tua memiliki pengaruh yang kuat dalam proses perencanaan karier siswa sehingga perlu dilibatkan dalam layanan bimbingan karier. Salah satu bentuk kolaborasi dengan orang tua yakni seminar parenting.
6. Kolaborasi dengan Lembaga Lain
Guru BK juga dapat berkolaborasi dengan Lembaga eksternal seperti perguruan tinggi baik negeri, kedinasan maupun swasta, lembaga bimbingan belajar, dinas pendidikan atau dinas tenaga kerja kota setempat, hingga perusahaan BUMN maupun swasta. Bentuk kolaborasi ini seperti pelaksanaan visitcampus, kunjungan industri, pelaksanaan asesmen Teknik tes oleh psikolog. Termasuk
7. Pengelolaan Papan Bimbingan dan Leaflet
Guru BK perlu memaksimalkan media visual yang ada di dalam maupun luar ruang BK sebagai pusat informasi karier bagi siswa. Salah satunya papan bimbingan dan media leaflet/brosur dari universitas.
8. Pengembangan Media Bimbingan Karier
Perkembangan bimbingan karier menjadi lebih efisien. Guru BK diharapkan terus berinovasi agarlayanan bimbingan. karier sesuai dengan kebutuhan siswa pada teknologi membuat proses zamannya.
5.
Teori
Trait And Factor
Setiap
individu mempunyai sejumlah kemampuan dan potensi seperti, intelegensi umum,
bakat khusus, taraf kreativitas, wujud minat dan keterampilan, yang semuanya
itu membentuk suatu pola yang khas untuk individu itu. Berkaitan dengan hal
tersebut W.S Winkel dan Sri Hastuti (2004: 407) menjelaskan bahwa trait factor
adalah corak konseling yang menekankan pemahaman diri melalui testing psikologi
dan penerapan pemahaman itu dalam memecahkan problem-problem yang dihadapi,
terutama menyangkut pilihan program dan bidang pekerjaan. Bimbingan dan
konseling trait and factor digunakan untuk membantu konseli agar dapat memahami
bakat minat dan kemampuannya melalui tes psikologi, sehingga konseli dapat memecahkan
masalah berkaitan dengan pemilihan jurusan, studi lanjut dan pemilihan
pekerjaan atau karier di masa yang akan datang, selain juga dapat membantu
seseorang/konseli dalam mengambil keputusan. Disamping itu konseling trait and
factor juga mengalami perkembangan tidak hanya terbatas membantu konseli dalam
memghadapi masalah yang berhubungan dengan karier atau pekerjaan tetapi juga
membantu dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan semua permasalahan yang
dialami oleh individu yang menyangkut intelek, sosial dan emosionalnya.
Teori trait and factor merupakan teori awal yang muncul bagi konseling dan pengembangan karir. Pendekatan ini menilai sifat/watak individu lewat ukuranukuran obyektif lalu menyesuaikannya dengan yang biasanya dibutuhkan bagi performa yang sukses dalam wilayah karir tertentu. Situasi ini akan membantu konselor dalam kemampuan menyediakan bantuan obyektif bagi klien yang mencari arah pengembangan karir dan pengambilan keputusan. Istilah “trait” sendiri merujuk pada karakteristik individu yang dapat diukur melalui test. Sedangkan “factor” merujuk pada karakteristik yang dibutuhkan untuk penampilan kerja yang sukses. Jadi istilah trait and factor merujuk pada penilaian karakteristik individu dan pekerjaan.
5.1.Tujuan
Tujuan
konseling Trait and Factor menurut Fauzan (2004:91) secara ringkas dapat
disebutkan, antara lain:
1. Self-clarificatio/kejelasan diri,
2. Selfunderstanding/pemahaman diri,
3. Self-acceptante/penerimaan diri,
4. Self-direction/pengarahan diri,
5. Self-actualization/perwujudan diri.
5.2.
Teknik-teknik Konseling Trait and Factor
Menurut
Williamson (dalam Fauzan, 2004:96) mengemukakan bahwa ada beberapa teknik
konseling trait and Factor antara lain:
1. Establishing rapport ( menciptakan
hubungan baik) Untuk menciptakan hubungan baik, konselor perlu menciptakan
suasana yang hangat, bersikap ramah dan akrab, dan menghilangkan kemungkinan
situasi bersifat mengancam.
2. Cultivating Understanding
(mempertajam pemahaman diri) Usaha pertama konselor adalah membantu klien lebih
mampu memahami diri sendiri yang mencakup segala kelebihan dan kelemahannya.
Selanjutnya klien dibantu mengatasi kelemahan dengan menmanfaatkan
kelebihanannya. Teknik ini harus menjadi perhatian utama konselor pada tahap
analisis, sintesis dan diagnosis.
3. Refaral (pengiriman pada ahli lain)
Pada dasarnya tidak semua masalah klien dapat dibantu oleh konselor. Kemampuan
konselor ada batas-batasnya, maka konselor hendaknya mengirimkan klien kepada
pihak lain yang lebih berwenang.
4. Carriying out the plain (melaksanakan
rencana) Rencana program tindakan yang telah dibuat dan yang telah disertai
dengan pengujian kelebihan dan kekurangan maka diikuti pengambilan keputusan
klien untuk dilaksanakan.
5. Advising or planing a program of action (memberi nasehat atau membantu merencanakan program tindakan) Tugas konselor setelah membantu klien mengenali dirinya adalah membantu klien merencanakan program tindakan.
Contoh kasus
masalah:
Seorang
siswa bernama Deni kelas 3 SMA merasa cemas akan jurusan yang akan dia pilih
saat melanjutkan pedidikan di perguruan tinggi. Kecemasan tersebut juga
dikarenakan semakin banyaknya saingan yang akan dia hadapi saat mengikuti test
untuk mask ke dalam perguruan tinggi negeri. Bagaimana cara mengurangi
kecemasan Deni melalui konseling Trait and Factor?
Solusi yang
dapat dilakukan
Seseorang
dapat menemukan jurusan yang cocok baginya dengan cara mempertimbangkan
kemampuan, potensi dan minat yang dimilikinya dengan persyaratan yang dituntut
dalam bidang tersebut. Ciri khas dari konseling trait and factor ialah asumsi
bahwa orang memiliki pola kemampuan dan minat yang dapat diketahui melalui
testing, dapat juga diselidiki persyaratan apa yang dituntut dalam berbagai
pekerjaan. Selain itu konseling Trait and Factor dikatakan mengikuti pemikiran
logis yang digunakan orang dalam menghadapi dan memecahkan masalah pengambilan
keputusan. Pada prinsip konselor Trait and Factor ini, membantu memecahkan
masalah klien yang berkenaan dengan kariernya. Proses konseling Trait and Factor
ini berlangsung dalam 6 tahap yaitu, antara lain:
1. Analisis atau pengumpulan data yang relevan dari
klien.
2. Sintesis atau merangkum data klien sehingga
menggambarkan keseluruhan pribadi klien.
3. Diagnosis atau mengumpulkan semua masalah klien
dan sebabsebabnya.
4. Prognosis atau kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi berdasarkan data yang ada.
5. Konseling atau keseluruhan proses pemberian
bantuan.
6. Tindak lanjut atau bantuan kepada
klien apabila timbul masalah baru dan evaluasi terhadap pelaksanaan konseling.
Konseling Trait and Factor bertujuan untuk mengajak klien berpikir mengenai dirinya dan menemukan masalah dirinya serta mengembangkan cara-cara untuk keluar dari masalah yaitu kecemasan dalam pemilihan kariernya.
6. Teori Myers-Bringgs Type
Myers-Birggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat dan tipe kepribadian seseorang. Psikotes ini dibentuk bertujuan untuk menjelaskan teori Carl Gustav Jung yang dirasa susah untuk dimengerti, dan digunakan. Menurut Carl Gustav Jung dalam L. Naisaban (2003 : 22), manusia memiliki dua tipe kepribadian yakni ekstrovert dan introvert. Selain itu Jung juga mengemukakan pendapat tentang empat fungsi kepribadian manusia yakni sensing (fungsi pengindera), intuition (fungsi intuitif), thinking (fungsi berfikir), dan feeling (fungsi perasa) atau lebih dikenal sebagai Tipe Kepribadian Jung. Berdasarkan Tipe Kepribadian Jung tersebut, Isabel Myers dan ibunya, Katharine C. Briggs membuat instrumen tes kepribadian yang kemudian dinamakan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI). Tes MBTI menjadi sangat terkenal dan banyak digunakan karena keakuratannya dan kemudahan dalam menggunakannya. MBTI ini bersandar kepada empat kecenderungan skala yang saling bertolak belakang yakni ekstrovert vs introvert, sensing vs intuition, thinking vs feeling dan perceiving vs judging. Hal yang perlu diperhatikan dari tes MBTI adalah tidak adanya jawaban “benar” dan “salah” serta tidak ada tipe kepribadian yang lebih daripada tipe kepribadian yang lainnya karena setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam kepribadiannya. Berdasarkan MBTI, maka tipe kepribadian manusia dapat digolongkan menjadi 16 tipe kepribadian yang mana tipe-tipe tersebut merupakan kombinasi dari keempat dimensi kecenderungan di atas. Semisal ENTP adalah kepribadian Ekstrovert-Intuition-Thinking-Perceiving (Intuitif yang ekstrovert dibantu dengan berpikir).
6.1.
Skala Kecendrungan MBTI
1.
Extraversion (E) - Introversion (I): Tipe ini erat kaitannya dengan pilihan
dunia yang disukai oleh seseorang. Apakah seseorang
lebih suka atas dunianya sendiri atau lebih terbuka akan kehidupan yang lain.
2.
Sensing (S) - Intuition (N): Tipe ini erat kaitannya dengan pemrosesan
informasi yang didapat. Apakah seseorang lebih memilih
untuk fokus pada informasi dasar yang didapat atau mengimpretasikan dan memberikan
makna terlebih dahulu pada informasi yang didapat.
3.
Thinking (T) - Feeling (F): Tipe ini erat kaitannya dengan keputusan yang
diambil, Apakah seseorang lebih memilih untuk
berpikiran logis atau memilih untuk melihat kondisi sekitar terlebih dahulu.
4.
Judgement (J) - Perception (P): Tipe ini erat kaitannya dengan fleksibelitas
pola hidup, pada saat
seseorang menghadapi dunia luar apakah seseorang lebih memilih untuk memutuskan sesuatu.
Jenis preferensi MBTI dapat dikombinasikan untuk membentuk 16 jenis tipe kepribadian yang berbeda. Tabel 2.2 menunjukkan kombinasi 16 tipe kepribadian MBTI. Misalnya seorang siswa mungkin merupakan ESTJ (extrovert, sensing, thinking, perceiving) dan siswa lain mungkin merupakan INFJ (introvert, intuition, feeling, judging). Fokus penelitian ini adalah 4 tipe kepribadian yang terdapat pada kelas penelitian, yaitu tipe ISTJ, INFJ, INTJ, ISTP, ISFP, ESTP, ESFP, ENFP, ESTJ, ESFJ, dan ENTJ.
6.3.
Aplikasi Teori Kepribadian Myers-Bringgs Type
Teori kepribadian Myers-Briggs ini
dalam pengaplikasiannya dijadikan suatu indikator sebagai tes MBTI, tes ini
bertujuan untuk mengidentifikasi type kepribadiaan seorang individu. seperti :
memahami orang lain, enghargai perbedaan, pengembangan diri, memilih karir, team
building, penyelesaian konflik, dan memperbaiki komunikasi. Namun tidak untuk
mengukur gangguan kejiwaan, abnormalitas, emosi, trauma, daya belajar, tingkat
kedewasaan, penyakit dan intelegensi.
Dalam kehidupan sehari-hari perlu
diketahui teori ini dapat berguna untuk mengidentifikasikan kepribadian
individu lain sehingga memudahkan kita untuk menentukan sikap dan perilaku kita
kepadanya supaya terjadi arus komunikasi yang baik. Selain itu metode
Myers-Briggs dalam kehidupan sehari-hari juga digunakan untuk:
1. Bimbingan Konseling, MBTI sangat
berguna di dunia pendidikan dan pengembangan karier. MBTI bisa digunakan
sebagai panduan untuk memilih jurusan kuliah sampai dengan profesi yang cocok
dengan kepribadian.
2. Pengembangan Diri, Dengan MBTI kita bisa memahami kelebihan (Strength) diri kita sekaligus kelemahan (Weakness) yang ada pada diri sendiri. Kita bisa lebih fokus mengembangkan kelebihan kita sekaligus mencari cara memperbaiki sisi negatif kita.
Contoh Kasus Masalah
Peserta didik yang kurang berinteraksi dengan guru, maupun dengan peserta didik lainnya tentunya menyebabkan terhambatnya kreativitas peserta didik. Perbedaan latar belakang sosial dan pola pikir setiap individu tentunya berbeda dilihat dari cara berkomunikasi dan merespon dari suatu masalah berdasarkan kepribadian yang dimiliki. Kepribadian seseorang bermacam-macam, penting bagi setiap individu untuk mengetahui karakteristik dan tipe kepribadiannya karena untuk mengetahui gaya belajar dan memudahkan dalam proses pembelajaran.
Solusi
yang dapat dilakukan
Ditinjau
berdasarkan tipe kepribadian Myer-Briggs untuk mengetahui tipe kepribadian
seseorang dapat dilakukan dengan beberapa tes. Diantaranya adalah dengan
melakukan tes kepribadian MBTI (Myer-Briggs Type Indicator). Tes kepribadian
ini dikelompokkan menjadi empat skala preferensi yang didasarkan pada teori
carl jung yang digunakan untuk mengidentifikasi seseorang dalam mengambil
keputusan diantaranya:
(1) extrover-introvert (dimensi
memusatkan perhatian);
(2) sensingintuition (dimensi memperoleh
informasi);
(3) thinking-feeling (dimensi cara
mengambil keputusan); dan
(4) judging-perceiving (dimensi
cara mengamati dan menilai) pemberian materi.
Tes
kepribadian MBTI memiliki beberapa kelebihan yaitu untuk mengukur preferensi
seseorang dalam melihat dan mengambil suatu keputusan yang diimplementasikan
dalam bentuk aplikasi yang bisa digunakan sebagai alat bantu bagi pendidik
dalam menentukan karakter peserta didik secara otomatis. Aplikasi tes
kepribadian MBTI ini akan memudahkan pendidik dalam mengetahui karakter atau
keadaan peserta didik sehingga bisa memberikan solusi terbaik terhadap masalah
yang dihadapi berdasarkan karakter peserta didik, selain itu tes MBTI juga
dapat digunakan di area perusahaan sebagai alat rekrutmen pegawai. Peneliti
menggunakan teori MBTI dalam menentukan karaker karena mudah dipahami, diolah,
dan bersifat aplikatif.
Referensi
Ani. 2017. Perempuan dan Karir (Telaah Teori Trait and Factor dalam Pengembangan Karir dan Pengambilan Keputusan). Muwazah. 9 (2) : 151- 161.
Hidayat, Dede, dkk. 2019. Karier Teori DAN Implikasinya Dalam Bimbingan Dan Konseling Komprehensif. Sukabumi : Jejak.
Juwitanigrum, Ita. 2013. Program Bimbingan Karir Untuk Meningkatkan Kematangan Karir Siswa SMK. Bimbingan Konseling. 2 (2) : 132-147.
Lekok M. 2018. Analisis Kemampuan MATEMATIS Siswa SMA Ditinjau Dari Tipe Keperibadian Myers Briggs Type Indikator (MBTI) [Skripsi]. Lampung (ID) : Universitas Negeri Islam Raden Intan.
Lestari, Indah. 2017.
Meningkatkan Kematangan Karir Remaja Memalui Bimbingan Karir Berbasis Life Skills. Konseling. 3
(1) : 17-27.




Komentar
Posting Komentar