UTS BK KARIR MAYRISA KHADIJAH HARRIS (1193351011)
Teori Trait and Factors Dalam Bimbingan Karir
Memutuskan untuk memilih sebuah karir lebih dari sekedar menentukan apa yang akan dilakukan seseorang untuk mencari nafkah. Pekerjaan mempengaruhi hidup seseorang secara keseluruhan, termasuk kesehatan fisik dan mental. Imbimbo (1994) dalam buku Gladding menyebutkan bahwa ada interkoneksi antara peran pekerjaan dan peranan lain dalam kehidupan. Sejalan dengan hasil penelitian dari Herr, dkk yang menyimpulkan bahwa penghasilan, stress, identitas sosial, arti, pendidikan, pakaian, hobi, minat, teman, gaya hidup, tempat tinggal, dan bahkan karakteristik kepribadian terkait dengan kerja seseorang.
Peran pekerjaan yang berkontribusi terhadap peran lain kehidupan manusia seringkali menjadikan pekerjaan menjadi prioritas yang penting dalam kehidupan manusia. Seperti halnya fenomena yang sering dijumpai di sekeliling kita bahwasanya sebagian besar orang dewasa yang rela menghabiskan sepertiga waktunya dalam sehari untuk bekerja dengan rutin. Sebaliknya, banyak orang yang bingung dan gelisah jika tak memiliki pekerjaan yang pasti dan orang yang menganggur akan merasa dirinya tak berdaya, frustasi, serta kehilangan arah tujuan hidup.
Maka dari itu, menjadi sangat penting dalam memilih karir banyak orang yang berbondong-bondong mencari pakar atau ahli yang dapat dipercaya memberikan solusi atau masukan untuk masa depan karirnya. Kebutuhan manusia akan pentingnya karir mendorong para ilmuwan berupaya untuk melakukan berbagai kajian maupun riset mengenai karir hingga bisa menelurkan berbagai teori tentang karir. Adalah teori perkembangan karir yang mencoba menjelaskan mengapa orang memilih suatu karir , selain itu juga berurusan dengan penyesuaian karir yang dilakukan manusia sepanjang masa.
Salah satu tokoh dalam karir adalah Frank Parson yang berhasil mendobrak dunia dengan mencetuskan teori tentang “Trait and Factor”. Parson diyakini merupakan tokoh terbesar dalam merintis konseling karir. Frank Parson dilahirkan pada tahun 1854 di Mount Holly. Pada usia 15 tahun dia belajar matematika dan teknik di Cornell University, lulus dengan gelar B.C.E. kemudian bekerja di kereta api. Setelah rel kereta api bangkrut, Parson beralih karir menjadi guru di beberapa mata pelajaran, seperti matematika dan sejarah di sekolah umum di Perancis. Parson juga belajar hukum kemudian pada tahun 1885 menjadi pegawai di sebuah firma hukum di Boston. 1885 merupakan tahun penting dalam karirnya, Parson mengajar hukum di Boston University. Beragam bidang diraihnya seperti mendapatkan gelar professor sejarah dan ilmu politik, professor sejarah dan ekonomi. Pada tahun 1905, Parsons menjadi Direktur dari salah satu program layanan Civic House yang disebut Institut pencari.
Teori Trait and Factors
Teori dari Parson disebut sebagai teori “Trait and Factors” atau sifat dan faktor. Yang dimaksud dengan Trait adalah suatu ciri yang khas bagi seseorang dalam berfikir, berperasaan, dan berperilaku seperti intelegensi (berfikir), iba hati (berperasaan), dan agresif (berperilaku). Beberapa ahli psikologi telah mencoba untuk menemukan seperangkat ciri dasar yang terbatas jumlahnya, dengan menganalisis data hasil testing psikologis melalui teknik statistik yang disebut Factor Analysis, sehingga ciri-ciri dasar yang mereka temukan disebut factors. Teori Trait and Factors adalah pandangan yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dapat dilukiskan dengan mengidentifikasikan sejumlah ciri, sejauh tampak dari hasil testing psikologis yang mengukur masing-masing dimensi kepribadian itu.
Dalam intervensinya, biasanya Parson bertemu dengan siswa hanya sekali yang mungkin sulit untuk menentukan karir seseorang. Dalam pemecahan masalah karir, Parson menjelaskan tiga faktor kunci dalam membuat pilihan karir. Ketiga faktor kunci tersebut adalah:
Namun prosedur yang digunakan oleh Frank Parsons untuk menemukan fakta dalam rangka langkah kerja yang pertama dan yang kedua ternyata tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan dari segi analisis psikologi dan sosial secar ilmiah. Tekanan pada studi psikologi terhadap masing-masing orang dalam suatu klinik psikologis, dengan menggunakan alat-alat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, menjadi ciri khas dari aliran konseling yang kemudian disebut Konseling Klinikal. Corak konseling yang berpegang pada teori Trait and Factor berkembang dalam rangka konsepsi aliran Konseling Klinikal. Oleh karena itu, pendekatan konseling Trait-Factor dalam beberapa buku dinamakan Konseling Klinikal.
Williamson merumuskan sejumlah asumsi yang mendasari Konseling Trait and Factors dalam suatu karangan yang dimuat dalam Theories of Counseling (1965), sebagai berikut :
Tiap individu mempunyai sejumlah kemmapuan dan potensi, seperti taraf intelegensi umum, bakat khusus, taraf kreativitas, wujud minat serta keterampilan dan secara bersama-sama membentuk pola yang khas pada individu itu. Hal tersebut merupakan ciri-ciri kepribadian (traits), yang dapat diidentifikasi melalui tes psikologis.
Pola kemampuan dan potensi yang tampak pada seseorang menunjukkan hubungan yang berlain-lainan dengan kemampuan dan keterampilan yang dituntut pada seorang pekerja di berbagai bidang pekerjaan. Minat yang dimiliki seseorang juga menunjukkan hal yang berlainan dengan pola minat yang ditemukan di berbagai bidang pekerjaan. Maka, dibutuhkan informasi jabatan (vocational information), yang tak hanya mendeskripsikan tugas-tugas yang dilakukan, tetapi menggambarkan pula pola kualifikasi dalam kepribadian pekerja. Hal ini bisa melalui testing psikologis.
Informasi pendidikan yang dibutuhkan bukan hanya mendeskripsikan isi dari suatu program studi, tetapi juga menggambarkan pola kualifikasi yang ditutntut. Informasi ini harus bersifat objektif berdasarkan hasil penelitian. Penentuan kecocokan atau ketidakcocokan antara data tentang tuntutan program studi dan data tentang individu , lebih dapat diandalkan daripada hanya perkiraan kecocokan atas dasar pandangan pribadi.
Tiap individu mampu, berkeinginan, dan berkecenderungan untuk mengenal diri sendiri serta memanfaatkan pemahaman diri itu dengan berfikir baik-baik, sehingga dia akan menggunakan keseluruhan kemampuannya dan dapat mengatur kehidupannya sendiri secara memuaskan.
Aplikasi Teori Trait And Factors dalam Konseling
Jika seorang konseli dengan bantuan dari konselor sudah mampu mengenali atau memahami dirinya sendiri, maka konseli tersebut tidak akan mengalami kesulitan dalam memilih karir yang sesuai dengan potensi atau kemampuan yang dimilikinya. Akan tetapi, pilihan karir tidak hanya ditentukan oleh sifat diri/dimensi kepribadian dari konseli melainkan konselor juga harus mampu memberikan data mengenai pengalaman kerja dan latar belakang individu (konseli) pada umumnya. Proses konseling menurut Williamson dan Darley (1937) dalam teori trait and factor ini dibagi ke dalam 5 tahapan, diantaranya:
Konseling bertujuan untuk mengajak klien berpikir mengenai dirinya dan menemukan masalah dirinya serta mengembangkan cara-cara untuk keluar dari masalah tersebut. Untuk itu secara umum konseling trait and factor dimaksud untuk membantu klien mengalami:
Metode yang dapat digunakan oleh konselor menurut teori trait and factor ini adalah dengan menggunakan teknik-teknik seperti wawancara, prosedur interpretasi tes, dan menggunakan informasi jabatan atau pekerjaan yang selanjutnya akan disusun untuk membantu menyelesaikan masalah karir yang dihadapi oleh konseli. Bimbingan dan konseling karir menurut teori trait and factor ini bertujuan untuk mengajak konseli agar dapat berfikir mengenai dirinya serta mampu mengembangkan cara-cara yang dilakukan agar dapat keluar dari masalah karir yang dihadapi.
Bimbingan dan konseling karir menurut teori trait and factor dapat digunakan terhadap semua kasus yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut, ragam konseling jabatan atau konseling akademik (konseling karir), dimana konseli dihadapkan oleh keharusan untuk memilih beberapa alternatif, konseli telah menyelesaikan minimal jenjang pendidikan SMP dan sudah mulai tampak stabil dalam berbagai ciri kepribadian, konseli tidak menunjukkan kelemahan yang serius dalam beberapa segi kepribadiannya, misalnya selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan karirnya.
Teknik Konseling Trait and Factor
Dalam mengimplementasikan pemecahan masalah, Williamson dalam Fauzan (2004) mengemukakan 5 macam stategi atau teknik utama (major technique), yaitu:
Ada beberapa teknik umum yang digunakan dalam pendekatan ini :
Attending adalah perilaku konselor untuk melibatkan diri dalam proses konseling meliputi kontak mata, kualitas suara, jejak verbal, dan bahasa tubuh.
Opening adalah membuka kegiatan wawancara.
Acceptance adalah penerimaan terhadap klien.
Restatement adalah mengulang atau menyatakan kembali sebagian pernyataan konseling yang dianggap penting. Pharaprase adalah mengulang kalimat/ pernyataan singkat konseli secara utuh, apa adanya tanpa merubah makna
Reflection of Feeling adalah pantualan perasaan yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan/sikap yang terkandung di balik pernyataan klien.
Clarification adalah mengungkapkan kembali isi pernyataan klien dengan menggunakan kata-kata baru dan segar
Strukturing adalah penegasan tentang batas-batas konseling itu sesungghnya.
Meringkas adalah suatu proses untuk memadu berbagai ide dan perasaan dalam satu pernyataan pada akhir suatu unit wawancara konseling.
Keuntungan dan Kelemahan Teori Trait and Factors
Winkel (2004), dalam bukunya Bimbingan dan Konseling dalam Institusi pendidikan, mengemukakan mengenai keuntungan dan kelemahan teori Trait and Factors. Keuntungannya antara lain:
Sedangkan kelemahan pendekatan Trait and Factors menyangkut pilihan bidang studi dan/pekerjaan. Kelemahan tersebut antara lain sebagai berikut :


Komentar
Posting Komentar